[{"id":10,"user_id":1,"category_id":3,"title":"Peta Isu Advokasi dan Perjuangan Penyintas Gagap di Indonesia","body":"<p>Gagap (<em>stuttering</em>) bukanlah indikator kecerdasan atau kemampuan seseorang, melainkan variasi neurologis dalam memproduksi suara. Indonesian Stuttering Community (ISC) hadir tidak hanya sebagai ruang aman untuk bercerita, tetapi juga sebagai wadah advokasi untuk memperjuangkan hak-hak penyintas gagap di berbagai sektor kehidupan.</p><h2>Kesetaraan di Dunia Kerja</h2><p>Penyintas gagap sering menghadapi diskriminasi tidak tertulis, terutama saat proses wawancara rekrutmen atau evaluasi promosi jabatan. Kami mendorong perusahaan untuk menilai kandidat berdasarkan kompetensi teknis dan etos kerja, bukan semata-mata dari kelancaran verbal.</p><h2>Ruang Belajar Tanpa Bullying</h2><p>Masa sekolah sering menjadi fase paling traumatis bagi anak penyintas gagap akibat minimnya pemahaman lingkungan sekitar. ISC mengadvokasi pentingnya edukasi bagi tenaga pengajar untuk menciptakan suasana kelas yang aman, inklusif, dan bebas dari perundungan.</p><h2>Akses Terapi Wicara</h2><p>Layanan logopedia dan terapi wicara profesional saat ini masih terpusat di kota besar dengan biaya yang cukup tinggi. Kami memperjuangkan ketersediaan informasi dan pemerataan akses layanan terapi yang lebih terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.</p><h2>Edukasi Kesadaran Publik</h2><p>Banyak masyarakat awam merespons kegagapan dengan memotong pembicaraan atau menyelesaikan kalimat, yang justru memicu kecemasan tambahan. Kampanye digital kami bertujuan mengedukasi publik tentang cara berinteraksi dan menjadi pendengar yang empatik.</p><h2>Bergabung Bersama ISC</h2><p>Perubahan sosial yang besar selalu dimulai dari langkah kecil komunitas yang bersatu. Mari bergabung bersama kami untuk saling menguatkan dan mewujudkan Indonesia yang lebih inklusif bagi penyintas gagap.</p>","is_official":true,"created_at":"2026-05-06 08:47:41.506762+07","updated_at":"2026-05-06 08:49:27.993+07","img_url":"","slug":"peta-isu-advokasi-dan-perjuangan-penyintas-gagap-di-indonesia","published":true,"is_pinned":true,"author":"Nanang Fitrianto","category_name":null},{"id":65,"user_id":3,"category_id":1,"title":"2 Mengenal Gagap Lebih Dekat","body":"<p>Hai, Stutterians! Apakah kalian sudah tahu asal muasal dari stuttering? Nah, kalau kalian belum tahu, yuk simak penjelasan di bawah ini! as<br><br>Stuttering yang dalam bahasa Indonesia disebut gagap adalah suatu ketidaklancaran ketika berbicara. Bisa berbentuk pemanjangan, penghentian, dan pengulangan. Makna kelancaran menurut American Speech and Hearing Association (ASHA) mengacu pada kontinuitas, kecepatan, dan upaya dalam produksi ucapan. Semua orang yang berbicara kadang-kadang akan mengalami ketidaklancaran. Mereka mungkin ragu-ragu saat berbicara, menggunakan sisipan (“seperti” atau “uh”), atau mengulangi kata maupun frasa. Ini disebut disfluensi atau nonfluensi tipikal. Sedangkan gangguan kelancaran adalah gangguan dalam aliran berbicara yang ditandai dengan kecepatan atipikal, ritme, dan disfluensi (misalnya: pengulangan suara, suku kata, kata, dan frasa; perpanjangan suara; dan blok), yang juga dapat disertai dengan ketegangan yang berlebihan, penghindaran berbicara, perilaku berusaha, dan tingkah laku sekunder (American Speech-Language-Hearing Association [ASHA], 1993)<br><br>Stuttering juga ditandai dengan tipe-tipe sebagai berikut:<br>1. Part-word repetitions – “Aku p-p-p-pingin makan”<br>2. One-syllable word repetitions – \"pergi-pergi-pergi sana!\"<br>3. Prolonged sounds – \"Ssssssinta anak yang baik.\"<br>4. Blocks or stops – \"Aku ingin (jeda) kue.\"<br>Tambahan: Terkadang stutterer menggunakan perilaku seperti menganggukkan kepala atau berkedip untuk berhenti atau mencegah gagap. Mereka mungkin juga menghindari penggunaan kata-kata tertentu atau menggunakan kata-kata yang berbeda agar tidak gagap.<br><br>Tapi Stutterians, ada juga yang disebut normal stuttering/normal disfluensi. Disfluensi di bawah ini acap kali terjadi pada diri kita dan dianggap tidak gagap loh..<br>1. Menambahkan suara atau kata, yang disebut interjeksi - \"Saya umm harus pulang.\"<br>2. Mengulangi seluruh kata - \"Anu, saya tidak setuju dengan Anda.\"<br>3. Mengulangi frasa - \"Dia - dia berusia 4 tahun.\"<br>4. Mengganti kata-kata dalam kalimat, yang disebut revisi - \"Saya sudah – saya cabut gigi.\"<br>5. Tidak menyelesaikan sebuah pikiran - \"Namanya adalah (jeda sebentar) Saya tidak ingat.\"<br><br>Gagap biasanya dimulai antara usia 2 dan 6 tahun. Banyak anak mengalami periode ketidaklancaran bicara yang berlangsung kurang dari 6 bulan. Gagap yang berlangsung lebih lama dari ini mungkin memerlukan pengobatan.<br><br>Tidak ada penyebab pasti dari gagap. Tetapi, ada kemungkinan penyebab gagap, sebagai berikut:<br>1. Riwayat keluarga. Banyak orang yang gagap memiliki anggota keluarga yang juga gagap.<br>2. Perbedaan otak. Orang yang gagap mungkin memiliki perbedaan kecil dalam cara kerja otaknya selama berbicara.<br><br>Bagaimana, Stutterians? Sudah teredukasikah mengenai stuttering?<br>Kalau kalian ingin tahu informasi tentang stuttering lebih dalam, cek terus media sosial kami ya!</p><p>Penulis: Frizky Ikhfa H</p><p>Penyunting: Muhamad Carvin Syah<br>***<br>Sumber rujukan:</p><p><a target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\" href=\"https://www.asha.org/public/speech/disorders/stuttering/\">https://www.asha.org/public/speech/disorders/stuttering/</a></p><p><a target=\"_blank\" rel=\"noopener follow\" href=\"https://indonesianstutteringcommunity.medium.com/?source=post_page-----82fe78714448--------------------------------\"><br></a></p>","is_official":true,"created_at":"2024-06-04 22:19:50.273769+07","updated_at":"2025-10-02 19:44:54.029+07","img_url":"AHoI1dRCLh-N5p5ijmnc3.webp","slug":"2-mengenal-gagap-lebih-dekat","published":true,"is_pinned":false,"author":"Team ISC","category_name":null},{"id":63,"user_id":3,"category_id":1,"title":"How to Begin Loving Ourselves?","body":"<p><em>Love yourself first before loving somebody else</em>. Sebagian dari teman-teman pembaca mungkin sudah sering menemukan <em>quotes</em> ini di buku, artikel, unggahan media sosial, atau bahkan ceramah pembicara terkenal. Mengapa mencintai diri sendiri, a.k.a <em>self-love</em>, akhir-akhir ini banyak dibicarakan orang, juga menjadi topik yang sepertinya sangat relevan untuk masyarakat?</p><p>Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, seringkali orang <strong>menjadi</strong> frustasi, dihadapkan dengan pilihan dan masalah yang semakin kompleks. Mencintai diri sendiri dengan paham dan tahu apa yang diinginkan akan sangat membantu untuk menghadapi situasi dan kondisi yang tidak bisa diprediksi. Selain itu, bagaimana kita bisa memberikan cinta kepada orang lain, sebelum kita bisa mencintai sesuatu yang paling dekat dengan kita, yaitu diri kita sendiri? Ibarat gelas kosong yang ingin memberikan air untuk gelas lainnya. Hanya dapat memberi udara hampa yang tak berarti.</p><p>Sebelum membahas lebih jauh tentang mencintai diri sendiri atau <em>self-love</em>, alangkah baiknya teman-teman pembaca untuk coba kenalan dulu nih dengan <em>self-growing process</em>. <em>Self-growing process </em>merupakan masa bertumbuh dan berkembangnya seseorang dari segi psikis. Masa-masa dimana manusia mencari jati dirinya hingga menemukan dan bisa mencintai pribadinya. Masa-masa dimana, pada akhirnya kita bisa mencintai lingkungan sekitar, dengan tak lupa juga untuk mencintai diri masing-masing.</p><p>Salah satu tahap dari <em>self-growing process</em> adalah <em>self-love</em>. <em>Self-love </em>adalah masa dimana kita tidak lagi bergantung pada orang lain untuk membuat kita merasa cukup dicintai. Cinta dan kasih sayang yang didapatkan dari orang lain menjadi suatu kemewahan, bukan lagi menjadi kebutuhan, tetapi bonus. Ketika sudah berada pada tahap ini, seseorang akan bisa mencintai lingkungan sekitarnya, berusaha untuk terus memberikan dampak positif untuk orang lain. <em>It is about the world, the environment, about collective consciousness, helping other people to love themselves.</em></p><p>Lalu, apa sih langkah-langkah awal yang bisa kita lakukan untuk memulai tahap <em>self-love</em>?</p><ol><li><p>Terima diri kita apa adanya</p></li></ol><p>Langkah paling awal yang dapat kita lakukan untuk mencintai diri sendiri adalah menerima segala yang ada pada diri kita. Artinya, kita tidak boleh memberikan kritikan kepada diri kita sendiri, termasuk segala kekurangan dan kelebihan yang kita miliki. Cara lainnya yaitu menghentikan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Dikutip dari <em>Journal of Social and Clinical Psychology</em>, bahwa membandingkan hidup Anda dengan orang lain di sosial media, menyebabkan perasaan depresi dan kesepian. Jadi cobalah untuk tidak menentang apa yang kita punya, dan sebaliknya. Yang kita perlukan hanya menghargai segala yang ada, serta menerima apapun dengan cukup.</p><p><em>2. Self-talks</em></p><p><em>Self-talks</em> atau berbicara pada diri kita sendiri merupakan cara sederhana yang bisa kita lakukan. Kita dapat berbicara di dalam hati maupun diungkapkan secara lisan. Dengan membiasakan perilaku ini, lambat laun akan terjalin persahabatan. Manfaat<em> </em>lainnya yaitu kita dapat bebas menilai diri dengan objektif. Dengan begitu, kita dapat meningkatkan motivasi dan fokus. Contoh, kita dapat bertanya, “Apa tujuan saya melakukan ini? Apa saya merasakan kebahagiaan?”. Dengan membiasakan <em>self-talks</em>, kita dapat menyalurkan emosi secara bebas, seperti kesal, marah, atau mengeluh.</p><p>3. Mencari <em>circle</em> kehidupan yang positif</p><p>Bukankah jika kita dikelilingi oleh orang yang selalu tersenyum, kita pasti akan ikut tersenyum? Begitupun jika kita dikelilingi orang yang saling toleransi dengan perbedaan. Segala kebiasaan dan pola pikir akan tertular energi positif. Kita akan terdorong untuk menjadi orang yang memberi dukungan, kritikan yang membangun, dan menerima segala yang ada pada diri kita.</p><p>4. Menghindari masukan yang menjatuhkan</p><p>Menghindar disini bukan berarti tidak terima apabila dikritik. Kita hanya tidak boleh membiarkan orang lain menjatuhkan kepercayaan diri yang sudah dibangun. Caranya dengan mengurangi rasa penasaran terhadap penilaian orang lain. Dapat juga dengan menghindari standar kehidupan yang orang lain tetapkan. Dengan begitu, menutup kemungkinan orang lain memberi nasihat <em>toxic,</em> yang menjadi terbebani atau <em>insecure</em>.</p><p>5. Berhenti menaruh ekspektasi pada orang lain</p><p>Menaruh harapan kepada sesama manusia sangat besar resikonya. Bukan hanya berdampak pada kehilangan kepercayaan, tapi juga sakit hati yang begitu dalam. Apalagi jika kamu berani memprioritaskan seseorang, bukankah akan sangat menyakitkan jika tidak terbalas? Letakkanlah harapan untuk bahagia pada diri sendiri. Jadi, bila terjadi suatu kesalahan, akan lebih mudah meminta maaf dan memaafkannya. So, let’s keep expectation low.</p><p>Kita semua ingin merasa bahagia, tapi tidak semua orang bisa menyadari kebahagiaan yang telah datang. Tidak semua orang mau merasa cukup dan bersyukur. Bahkan masih banyak orang yang selalu mencemaskan hari esok dengan menyalahkan diri sendiri. Leo Buscaglia pernah berkata, “Kekhawatiran tidak dapat menghilangkan kesedihan hari esok. Hari ini hanya dapat menyedot kegembiraan hari esok. Dengan selalu menyalahkan diri sendiri, lama kelamaan menghilangkan kepercayaan, bahkan membuat benci, menjadikan kita akan beropini bahwa saya tidak pantas bahagia”. Tapi jika kita berusaha keras mencoba 5 langkah awal di atas, kita akan maju selangkah dalam tahap <em>self-growing</em> dan akan menjadi individu yang adil dengan diri kita sendiri. Semakin kita mencintai diri sendiri, maka akan timbul kebahagiaan yang memotivasi kita mencapai banyak hal dalam hidup. Yuk,sobat ISC, jangan lupa untuk terus mencintai diri sendiri ya!</p><p>Oleh: Herfah Oky Octavia &amp; Putri Azizah Restu Bumi</p><p>Penyunting: Muhamad Carvin Syah</p><hr><p>Sumber: </p><p><a target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\" href=\"https://greatmind.id/article/pencarian-diri\"><u>https://greatmind.id/article/pencarian-diri</u></a></p><p><a target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\" href=\"https://m.fimela.com/editor-says-menghilangkan-kebiasaan-menaruh-harap-ke-orang-lain\"><u>https://m.fimela.com</u>/editor-says-menghilangkan-kebiasaan-menaruh-harap-ke-orang-lain</a></p>","is_official":true,"created_at":"2024-06-04 22:14:17.627337+07","updated_at":"2025-10-07 20:12:37.509+07","img_url":"JsRKZWQ6xpo33ic2C7-aH.png","slug":"how-to-begin-loving-ourselves","published":true,"is_pinned":false,"author":"Team ISC","category_name":null},{"id":62,"user_id":3,"category_id":1,"title":"Get To Know About Stuttering","body":"<p>Setiap manusia merupakan individu yang unik, karena kita sebagai manusia memiliki keunggulan dan keterbatasannya masing-masing. Seseorang mungkin memiliki bakat tertentu yang dapat membuatnya unggul dan menonjol di antara orang lain, tetapi juga seseorang mungkin merasa memiliki bakat-bakat yang terbatas. Selain itu, seseorang juga mungkin memiliki keterbatasan fisik, mental, atau keterbatasan lainnya. Salah satu keterbatasan yang jarang diketahui oleh mayoritas orang ialah gagap atau <em>stuttering</em>.</p><p>Di dunia ini, terdapat kurang lebih tujuh puluh juta orang atau sekitar 1% dari populasi dunia yang merupakan pengidap gagap. Namun, apakah gagap itu? Gagap merupakan gangguan bicara yang dapat terlihat dari kelancaran dan alur berbicara. Umumnya, gangguan bicara ini berupa memanjangkan bunyi suatu kata, pengulangan bunyi atau suku kata, atau terdapat jeda saat berbicara. Pada dasarnya, mereka mengetahui apa yang mereka ingin katakan, tetapi sulit untuk menyebutkannya.</p><p>Menjadi seorang pengidap gagap tidak menutup kemungkinan untuk berkarir di bidang dan tempat yang dikenal membutuhkan kemampuan berbicara yang apik. Siapa sangka penyanyi fenomenal seperti Ed Sheeran dan Elvis Presley, aktor mendunia seperti Emily Blunt, Samuel L. Jackson, dan Rowan Atkinson, bahkan hingga <em>rapper </em>seperti Kendrick Lamar, merupakan salah satu pengidap gagap. Para tokoh tersebut membuktikan bahwa keterbatasan yang mereka miliki tidak menghambat karir mereka hingga mencapai kesuksesan. Dengan keterbatasan inilah, justru mereka menjadi orang-orang yang unik dan berbeda.</p><p><strong>Faktor Penyebab</strong></p><p>Banyak orang beranggapan bahwa gagap bukanlah merupakan suatu kelainan atau keterbatasan, melainkan disebabkan oleh perasaan gugup atau takut. Ketika bertemu dengan seorang pengidap gagap, masih banyak orang yang mengatakan atau berpikiran “mungkin dia sedang gugup”. Inilah mispersepsi yang ada di tengah-tengah masyarakat terhadap para pengidap gagap. Pada kenyataannya, gagap dapat disebabkan oleh banyak faktor, seperti faktor genetik, pertumbuhan, neurogenik, dan psikogenik.</p><p>Gagap dapat disebabkan karena adanya <strong>kelainan gen bawaan</strong>. Terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa faktor genetik berperan dalam munculnya kegagapan dalam suatu individu. Oleh karena itu, apabila terdapat anggota keluarga yang mengidap gagap, kemungkinan ada anggota keluarga lain yang mengidap gagap. Hampir 60% pengidap gagap memiliki keluarga yang merupakan pengidap gagap pula.</p><p>Selain itu, gagap juga dapat disebabkan oleh <strong>faktor pertumbuhan</strong>. Umumnya, gagap terjadi pada anak berumur 2 hingga 5 tahun atau pada saat seorang anak sedang belajar berbicara. Saat seorang anak berbicara, mereka mengalami keterbatasan dalam penyampaian maksud melalui bahasa atau tutur kata mereka. Akan tetapi, sebagian besar pengidap gagap tipe ini dapat pulih ketika anak beranjak dewasa.</p><p>Gagap juga dapat diakibatkan oleh <strong>gangguan neurogenik</strong>. Gangguan yang menyebabkan gagap dapat terjadi pada sistem otak, saraf, dan otot yang mengatur kemampuan berbicara seseorang. Umumnya, pengidap gagap yang disebabkan oleh gangguan neurogenik mengalami penyakit, seperti stroke, atau kecelakaan.</p><p>Gagap psikogenik merupakan gagap yang diakibatkan oleh adanya <strong>trauma atau masalah dalam pemikiran</strong>. Umumnya, gagap jenis ini terjadi karena adanya tekanan yang muncul dari lingkungan, terutama keluarga. Misalnya, harapan tinggi orang tua atau gaya hidup yang serba cepat. Trauma yang cukup masif bagi seseorang dapat menyebabkan kegagapan.</p><p>Selain itu, faktor psikogenik juga dapat berpengaruh pada para pengidap gagap. Pemikiran yang ada dalam benak para pengidap gagap juga <strong>dapat memperparah kegagapan </strong>mereka. Para pengidap dapat memiliki pemikiran bahwa mereka tidak dapat berbicara di depan umum, bahkan hingga pemikiran “saya merasa tidak berguna”. Pemikiran-pemikiran ini dapat menjadi tekanan internal dalam diri mereka sehingga gagap yang mereka alami menjadi lebih parah.</p><p>Kegagapan yang dialami setiap pengidap memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Tingkat kegagapan ini berpengaruh pada terapi yang dilakukan pengidap. Suatu terapi yang dikatakan dapat menyembuhkan kegagapan seorang pengidap tidak sepenuhnya cocok untuk semua pengidap. Terapi yang dilakukan setiap pengidap berbeda, tergantung pada penyebab dan tingkat kegagapannya. Oleh karena itu, <strong>mengidentifikasi faktor penyebab gagap</strong> seseorang sangatlah penting.</p><p><strong>Gejala</strong></p><p>Apa saja gejala-gejala kegagapan? Gejala yang paling umum ialah <strong>kesulitan mengatakan suatu kata</strong> atau kalimat. Hal ini ditunjukkan dengan beberapa cara, yaitu dengan melakukan perpanjangan kata atau suara pada kata (beeeeegitu ya) serta mengulangi suatu suara, silabel, atau kata (be-be-be-begitu ya dan gitu-gitu-gitu ya). Kesulitan berbicara juga ditunjukkan dengan memberi jeda pada suatu silabel atau kata (be — gitu ya). Terkadang, pengidap juga melakukan penambahan kata-kata semacam <em>um</em> bila kesulitan menyebutkan kata selanjutnya ketika sedang berbicara.</p><p>Gejala-gejala tersebut biasanya diikuti dengan sejumlah <strong>gejala fisik</strong>, seperti mengedipkan mata dengan cepat, bibir atau rahang gemetaran, serta “mengerutkan” wajah terutama daerah mata dan hidung (<em>facial ticts</em>). Gejala fisik lainnya dapat berupa menghentakkan kepala dan mengepalkan tangan. Selain itu, pengidap gagap biasanya juga memiliki <strong>ketakutan atau <em>anxiety</em> untuk berbicara</strong>.</p><p>Tingkat gejala kegagapan pada setiap pengidap gagap dapat bervariasi seiring berjalannya waktu. Ada kalanya seseorang merasa kegagapannya menghilang pada satu waktu, lalu tiba-tiba kegagapannya datang kembali. Selain itu, tingkat kegagapan dapat menjadi lebih baik atau buruk tergantung situasi dan kondisi pengidap. Ketika seorang pengidap gagap terlalu bersemangat, lelah, atau merasa tertekan, gejala kegagapan yang dimilikinya bisa memburuk. Selain itu, gejala juga dapat memburuk bila pengidap dihadapkan dengan situasi-situasi tertentu, seperti berbicara di hadapan umum atau lewat telepon. Sebaliknya, mayoritas pengidap gagap cenderung bisa berbicara dengan lancar saat sedang sendirian. Pengidap gagap juga biasanya bisa mengucapkan kata-kata dengan baik saat bernyanyi atau saat berbicara secara bersamaan dengan orang lain.</p><p>Seringkali, pengidap gagap tidak hanya harus berhadapan dengan gangguan bicara mereka, tetapi juga dampak yang dibawanya. Kegagapan dapat mengarah pada sejumlah permasalahan lain, seperti kesulitan berkomunikasi dengan orang lain, tidak mampu menghadapi situasi yang mengharuskan berbicara, kehilangan kesempatan berprestasi pada kehidupan akademik atau karier, hingga menjadi korban <em>bullying</em>.</p><p>Brayden Harrington, seorang anak pengidap gagap berumur 13 tahun, pada pidatonya di CNN Town Hall Februari lalu berkata: “<em>You know, stuttering, when you think about it, is the only handicap that people still laugh about. That (they) still humiliate people about. And they don’t even mean to.”</em></p><p>Kegagapan, terutama di beberapa negara seperti Indonesia, merupakan gangguan yang masih disalahpahami oleh mayoritas orang. Hal ini membuat perilaku diskriminasi dan <em>bullying</em> menjadi sangat rentan terjadi. Lebih jauh lagi, perilaku tidak menyenangkan dari masyarakat dapat mengarah pada tumbuhnya permasalahan-permasalahan lain bagi pengidap gagap, seperti rendahnya <em>self-esteem</em> serta memburuknya kesehatan mental. Bagi sejumlah pengidap, komplikasi-komplikasi yang ditimbulkan dari kondisi mereka memengaruhi kehidupan mereka jauh lebih besar daripada gangguan bicara itu sendiri.</p><p>Oleh karena itu, gerakan-gerakan sosial untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang isu-isu kegagapan sangatlah penting untuk dilakukan. Semakin banyak orang yang memahami, maka akan semakin kecil kemungkinan terjadinya <em>bullying</em> dan hal-hal tidak menyenangkan lainnya pada para pengidap gagap. Dukungan dari orang-orang sekitar dapat mencegah timbulnya komplikasi, serta memberikan dorongan mental yang dibutuhkan pengidap gagap untuk berjuang dalam mengatasi gangguan bicaranya.</p><p>Oleh: Saskia Ayu Khairunnisa Marseno &amp; Adhisa Fathirisari Putri</p><p>Penyunting: Muhamad Carvin Syah</p><p>***</p><p>Sumber:</p><p><a target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\" href=\"https://www.cnn.com/2020/08/20/politics/13-year-old-stutter-convention-joe-biden/index.html\"><u>https://www.cnn.com/2020/08/20/politics/13-year-old-stutter-convention-joe-biden/index.html</u></a></p><p><a target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\" href=\"https://www.halodoc.com/kesehatan/gagap\"><u>https://www.halodoc.com/kesehatan/gagap</u></a></p><p><a target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\" href=\"https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/stuttering/symptoms-causes/syc-20353572#:~:text=Stuttering%20%E2%80%94%20also%20called%20stammering%20or,but%20have%20difficulty%20saying%20it\"><u>https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/stuttering/symptoms-causes/syc-20353572#:~:text=Stuttering%20%E2%80%94%20also%20called%20stammering%20or,but%20have%20difficulty%20saying%20it</u></a></p><p><a target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\" href=\"https://www.stutteringhelp.org/famouspeople\"><u>https://www.stutteringhelp.org/famouspeople</u></a></p><p><a target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\" href=\"https://www.stutteringhelp.org/faq#:~:text=More%20than%2070%20million%20people,as%20many%20males%20as%20females\"><u>https://www.stutteringhelp.org/faq#:~:text=More%20than%2070%20million%20people,as%20many%20males%20as%20females</u></a></p><p><a target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\" href=\"https://www.alodokter.com/gagap#:~:text=Gagap%20adalah%20kondisi%20di%20mana,usia%20di%20bawah%205%20tahun\"><u>https://www.alodokter.com/gagap#:~:text=Gagap%20adalah%20kondisi%20di%20mana,usia%20di%20bawah%205%20tahun</u></a></p>","is_official":true,"created_at":"2024-06-04 21:58:38.447848+07","updated_at":"2026-04-29 13:25:04.744+07","img_url":"hSo1G3-hVnjP4PseDMJlU.jpeg","slug":"get-to-know-about-stuttering","published":true,"is_pinned":false,"author":"Team ISC","category_name":null},{"id":11,"user_id":11,"category_id":1,"title":"halo","body":"<p>jadi seperti ini kisahnyaaa</p><p>hehe okkeee</p><p>jiahh</p>","is_official":false,"created_at":"2026-06-11 21:48:40.520482+07","updated_at":"2026-06-11 21:48:40.520482+07","img_url":null,"slug":"halo","published":true,"is_pinned":false,"author":"ESDM","category_name":null}]